Sebuah Narasi #1 - "Bersyukur"


Oleh : Ahmad Yafie Muharram

Semerbak silaturahmi, masih dalam ingar-bingar suasana lebaran, sebuah ide, usulan, atau gagasan dari seorang anggota keluarga saya telah direalisasikan kemarin siang. Tadabur alam dengan label berlibur menuju Pantai Pangandaran, Jawa Barat rasanya bisa diamini oleh segelintir atau sebagian orang anggota keluarga. Termasuk saya.

Dengan sebutan kebanggaan bertajuk keluarga Bani Alipudin yang akhirnya disingkat menjadi "Banal", memutuskan untuk menghabiskan sebagian waktu liburan dengan "berpetualang" ke Pantai Pangandaran.

Yang turut serta memang tidak "semuanya", tidak se-keluarga besar. Namun, dari suasana kemarin, bagi saya pribadi, rasanya: entah yang masih ada tetapi tidak ikut atau bahkan yang sudah berpulang pun serasa ikut bersama kami. Terutama mendiang ayah saya. AllohumagfirlaHu WarhamHu Wa AfiHi Wa FuanHu.
Bermodalkan 4 mobil pribadi, kami mulai mengucapkan doa dan meninggalkan kediaman circa 6:30 WIB. Dingin, hingga keponakan-keponakan (ti gigir) saya pun kedinginan, harus memakai jaket. Saya yang belum sempat sarapan di rumah, terpaksa sarapan di dalam mobil.

Di mobil yang saya tumpangi, sementara, perjalanan serasa biasa-biasa saja bagi saya. Hingga akhirnya keponakan saya (yang notabene merupakan putra dari sepupu saya, Teh Siti Nurpalah) menjahili saya. Maklum, ia masih anak kecil. Sedikit demi sedikit, saya tak terlalu merasa bosan dalam perjalanan.

Kami istirahat terlebih dahulu di Rumah Makan Pananjung. Circa 9:30 WIB. Saya yang tubuh sedikit lemas, merasa ngantuk, dan hati kosong langsung memesan kopi. Ah, nikmatnya. Sedikit masalah mulai tak berarti.

Kami melanjutkan perjalanan circa 9:45 WIB. Kali ini, perjalanan terasa berbeda dari sebelumnya. Perjalanan terasa bak balapan F1. 4 mobil kami serasa harus mendahului satu sama lain. Saya? Ah, saya menikmatinya saja. Untuk apa pergi jauh semisal tak dinikmati? Masalah celaka atau tidak, saya tahu itu ada yang mengurusnya. Saya hanya bisa berdoa. Canda, tawa, bahkan kecewa bercampur menjadi satu. Cih, menyebalkan. Ini membuat saya terharu. Sialnya, saya berhasil 'sedikit' melupakan rasa sakit saya (baiklah, usah tanya mengapa). Keluarga ini membuat hati saya terhibur sekaligus melebur.

Kali ini, kami istirahat kembali di Objek Wisata Ciung Wanara yang terkenal dengan banyaknya monyet/kera di sana. Sebelumnya, di mobil, saya juga telah memberitahu keponakan saya bahwa kami akan bertemu dengan monyet, ia begitu antusias, tetapi tidak dengan saya (usah tanya lagi mengapa). Kami menggelar tikar untuk makan bersama. Kala itu ada asin, daging ayam dan sapi, beberapa kerupuk, sambal, terong, mentimun, dan jaat. Bicara soal jaat, paman saya, Ian Abdussalam, amat sangat senang menikmatinya. Bahkan beliau berkata : "Dahareun favorit, Jaat!" (Makanan terfavorit, pastinya jaat!) - entahlah, saya kurang tahu Bahasa Indonesia-nya. Ah iya, ngomong-ngomong juga soal paman saya ini, beliau benar-benar seorang yang tangguh (Aamiin). Di tengah situasi serta kondisi yang masih memerlukan dukungan serta doa dari kawan-kawan, beliau masih bisa menyempatkan waktu untuk mempererat tali silaturahmi. Ini baik, mengingat pahala dari silaturahmi yang sudah jelas besarnya. Beliau menginspirasi saya. Bahwa ketakutan akan kalah dengan semangat juang tinggi, niat yang ikhlas, serta tekad yang kuat. Ke Pangandaran bersama beliau, makin mengingatkan saya terhadap mendiang ayah. Mohon doanya untuk kesehatan beliau.

Kami melanjutkan perjalanan, situasi "balapan" masih belum bertransformasi. Kami tiba di Pangandaran circa 14:00 WIB. Sayang sekali, mobil yang saya tumpangi berada di posisi keempat.

Di Penginapan, kami beristirahat terlebih dahulu, ada yang tidur, ada yang tiduran, ada yang duduk sambil meminum kopi dan merokok, ada yang bermain handphone, dan ada yang masih merindukan keponakannya di rumah (oke itu saya). Setelah tiba waktu Ashar, saya memutuskan untuk sholat dan langsung saja pergi ke pantai barat dengan tujuan : melihat senja dan matahari terbenam.
Di Pantai, sambil menunggu matahari terbenam, saya bersama keponakan, sepupu, serta paman saya, Pak Dadan Handan, bermain bola terlebih dahulu. Bola plastik tentunya.

Setelah sekian menit hingga jam bermain, sayang sekali, kami gagal melihat matahari terbenam dikarenakan cuaca yang mendung. Sangat tidak mendukung. Ah, tidak apa-apa. Bersikap Raja' saja, mungkin besok, akan ada matahari terbit yang tak kalah indah.

Sepulang dari pantai, kala senja, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah penginapan, sesuai dengan motto saya (selalu lapar), makan adalah kuncinya. Kami makan-makan kala itu.

Malamnya, seperti biasa yang kalangan muda lakukan, kami melakukan ritual "boseh-memboseh" mobil goes. Awalnya, saya tidak kebagian naik. Namun, akhirnya, sepupu saya, A Rijal Salim Munawar, menawarkan saya untuk menggantikannya. Ah, saya awalnya menolak, tetapi akhirnya mau juga. Sekalian, saya belajar menyetir mobil. Awokwokwokwokwok:v

Kami pulang ke penginapan circa 20:30 WIB. Saya tidur pukul 23:00 WIB karena harus merespon sahabat saya di Limbangan yang katanya ingin mengajak tim saya (Pulosari Team) tanding futsal.
Esoknya, kami bangun circa 4:30 WIB. Kecuali saya, saya bangun pukul 5:00 WIB. Hadeuh. Lagi-lagi, yang tadinya punya harapan melihat sunrise, harus pupus begitu saja sejak mengetahui bahwa diluar sedang hujan. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa alam tak dapat diduga atau bahkan dikira. Terkadang, ketika kita memperkirakan bahwa alam akan begini, alam malah menyediakan begitu. Atau sebaliknya. Saya mengerti sekarang.

Akhirnya, hujan tak henti-henti turun sampai pukul 7 pagi. Gagal sunset dan sunrise membuat kami kecewa. Ah, sudahlah. Ada pantai yang menunggu untuk dikuliti. Saya, Paman saya, dan sepupu saya yang merupakan adik-kakak, Muhammad Fikri Fahrul Rozy dan Tasya Nailal Ulya menyewa selancar. Lalu kami melesat ke pantai untuk melakukan ritual selancar, atau surfing, atau entahlah saya tidak tahu namanya.

Selama hampir 3 jam keluarga kami bermain di pantai, selama itu pula hati saya terasa bahagia. Sangat terasa bahwa masalah-masalah yang saya punya kali ini tak lagi berarti. Keluarga ini berhasil membuat saya keluar dari zona kegalauan. Ombak-ombak juga mengajarkan saya beberapa hal, yakni bahwa 'Kullu Nafsin Dzaaiqot Al Maut', setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dari ombak, setiap yang pergi pasti akan kembali, setiap yang pergi pasti akan berpulang. Begitupun yang pernah singgah di hati, akan hilang ditelan zaman. Eaaaaaa...


Di foto ini, mewakili pikiran saya, saya berpikir: Keluarga, salah satu nikmat yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta Yang Maha Kuasa kepada kita. Dulu, saya sempat merasa jauh dan acuh tak acuh terhadap keluarga. Alhasil, saya serasa mendapat hidup yang begitu-begitu saja. Padahal, di dalam keluarga, kamu akan menemukan cinta. Cinta yang sesungguhnya, yang menerima kamu apa adanya. Akhirnya, saya mulai membuka hati kembali, kembali meluruskan sebenarnya mengapa saya mencari-cari yang tak ada padahal di sekitar saya sudah ada? Bukankah seperti itu saya telah menjadi kufur? Bukankah harusnya saya bersyukur? Bersyukur akan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada saya yang amat sangat berarti bagi saya. Keluarga. Bersyukur akan setiap detik yang saya pakai untuk terus menjadi lebih baik. Bersyukur akan nikmat berupa kesehatan sampai saat ini untuk bisa bepergian. Bersyukur akan segala hal yang telah DIA anugerahkan demi sebuah kebaikan.

Allah, Terima Kasih...

Salam Sejati,

Ahmad Yafie.

Garut - Pangandaran, 13-14 Juni 2019

Komentar